Orang gila lain yang perlu kita hormati dan sayangi tentu saja adalah Shanty Harmayn, Orlow Seunke, dan kawan-kawannya, yang masih mau terus menyusahkan diri menyelenggarakan JiFFest (Jakarta International Film Festival) setiap tahun.
Komentar saya? “Senang sekali mengetahui kegiatan kecil, tidak menjanjikan apa-apa, tak berguna bagi banyak orang, tapi menurut saya penting buat kesehatan jiwa kita, ternyata diurus orang-orang dengan attitude semacam ini. Artinya, ia bisa saja — dalam proses memperbaiki diri — semrawut penyelenggaraannya, atau secara finansial berdarah-darah, tetapi morally correct.”
Di manapun di seluruh dunia, program seperti JiFFest (dan JakJazz juga, mestinya) tidak boleh dibiarkan menjadi kegiatan komersial yang sepenuhnya mengandalkan sponsorship. Ia adalah peristiwa kebudayaan yang penting bagi sebuah bangsa, dan karena itu mesti didukung tanpa pamrih oleh pemerintah (melalui berbagai institusi terkait) dan para filantrotis.
Tapi sampai penyelenggaraan kedelapan tahun ini, JiFFest tampaknya masih terus berkutat dengan persoalan yang itu-itu saja. Tahun lalu Orlow Suenke, filmmaker Belanda yang jatuh cinta kepada Indonesia dan baru dipercaya menjadi Direktur JiFFest, dengan kegigihan dan persistensi yang luar biasa, berhasil menggandeng banyak donatur dan sponsor. Hasilnya, JiFFest 2005 bisa menjadi sebuah festival film internasional (minus kompetisi) yang besar dalam banyak hal.
Lebih buruk lagi, LSF (Lembaga Sensor Film) belum apa-apa sudah melarang pemutaran tiga film mengenai Timor Loro Sae dan satu film mengenai NAD (Nangroe Aceh Darussalam). Keempat film itu adalah Tales of Crocodiles (Belanda), Passabe (Singapura), Timor Loro Sae (Portugal), dan The Black Road (Belanda).
Kendati begitu, saya punya sedikitnya lima alasan mengapa saya (dan juga Anda) tetap harus menonton JiFFest 2006.
Kedua, tahun ini banyak diputar film-film yang merupakan wakil resmi (official entry) dari berbagai negara untuk mengikuti kompetisi Best Foreign Language Film, Academy Award 2007. Ada official entry dari Indonesia (Berbagi Suami), Denmark, Spanyol, Kanada, Iran, Jerman, Meksiko, Brazil, Chezh, Finlandia, Hingaria, Swedia, dan lain-lain. Termasuk closing film, Black Book (Paul Verhoeven), official entry Belanda, yang berlatar fasisme Nazi dalam Perang Dunia Kedua
Keempat, seperti biasa, masih ada seksi khusus “House of Docs”, yang memutar banyak film dokumenter yang bukan cuma semakin menarik — bahkan tak kalah menarik dibanding film cerita — melainkan juga sulit buat ditonton di tempat lain selain di JiFFest.
Kelima, sebagian besar film yang diputar di Jiffest 2006 — justru karena tidak banyak yang populer seperti tahun lalu — rasanya bukanlah jenis film yang disukai oleh para pembajak. Artinya, bakal sulit didapat dalam bentuk DVD bajakan di Mangga Dua atau Ratu Plaza. :-)
Karena lima alasan itu, jadwal nonton saya tahun ini relatif sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Rata-rata 2-3 film pada hari kerja dan 3-4 film pada akhir pekan. Total semuanya 18 film bayar, enam film gratis, dan dua film invitation only. Sampai jumpa di Djakarta XXI dan EX XXI!
Update 30.11.06 at 22:40:
Wadoooh!?! Tiba-tiba banyak kawan meminta rekomendasi film-film bagus yang perlu ditonton di JiFFest 2006. Saya sebetulnya sama bingungnya, karena sebagian besar film yang diputar juga masih “asing” buat saya. Tapi, sekadar supaya tidak mengulang-ulang jawaban, berikut saya buatkan daftar sepuluh film cerita yang kemungkinan (besar) bagus dan bisa jadi menarik buat Anda. Empat di antaranya sudah saya tonton di Bangkok International Film Festival 2006. Menurut saya bagus dan menarik — moga-moga selera kita sama. :-)
Kesepuluh film itu adalah: Babel (Alejandro Gonzalez Inarritu, AS), After the Wedding (Susanne Bier, Denmark/Swedia), The Lost City (Andy Garcia, AS), Match Point (Woody Allen, Inggris/AS/Luxemburg), Volver (Pedro Almodovar, Spanyol), Water (Deepa Mehta, Kanada/India), Cafe Transit (Kambuzia Partovi, Perancis/Iran), Once You Are Born You Can No Longer Hide (Marco Tulio Giordana, Italia/Perancis/Inggris), The Tiger and the Snow (Roberto Benigni, Italia), dan Opera Jawa (Garin Nugroho, Indonesia).
Oh ya, sempatkan juga nonton beberapa film dokumenter (House of Docs). Secara teknis dan gagasan, film-film dokumenter mutakhir umumnya bagus-bagus. Jadi tinggal pilih saja tema atau topik yang paling menarik dan Anda minati. Selamat menonton!












sampai jumpa
masih tetep gak pake hp ya?
kita mesti telepati berarti untuk ngepasin nonton film di satu tempat
hihihihi
Langkah selanjutnya, susun formasi dan strategi nonton, allenatore… hehehe.
Match Point bagus. Filmnya bagus, Scarlett-nya juga bagus (dan seksi bangedh :p).
Salut! Kami pelajar Indonesia di Universitas Sains Malaysia juga mau menyelenggakan Pagelaran Film Indonesia II di Negeri Jiran. Secara teknis, panitia telah merampungkan materi, tapi secara finansial, belum.
Ada yang mau membantu?
heru effendi dalam “mari membuat film” sempat menyinggung perlunya “desentralisasi perfilman”. mungkinkah jiffest digelar di luar jawa? oh, nanti bukan jiffest dong namanya…
mpe ketemu di salah satu bioskop deh..
Rasanya asik juga ya kalau bisa barengan panjengenan pas nonton Jipes.
Nonton “A Hero Journey” gak? Kayaknya “menjanjikan” tuh.
selamat nonton ya semua…
semoga pilihan film-nya tokcer.
Sukses selalu untuk Jiffest. Memang harus ada yang memulai. Salam kenal.
Salam kenal, senang bisa bertemu dengan pencinta film berkualitas seperti mas Totot. Ulasannya tajam dan dalam.
Btw, just to announce bahwa KSF akan meluncurkan film terbaru. Sementara dalam proses LSF (mohon doa restunya).
Sedikit informasi kita sediakan di blog (websitenya masih under construction) lrth-movie.blogspot.com.
Jika ada waktu silakan berkunjung. Terima kasih.
Pakde izza baca ,seru!!!!