Bersiap untuk JiFFest

Orang gila lain yang perlu kita hormati dan sayangi tentu saja adalah Shanty Harmayn, Orlow Seunke, dan kawan-kawannya, yang masih mau terus menyusahkan diri menyelenggarakan JiFFest (Jakarta International Film Festival) setiap tahun.

JiFFest
JiFFest
Saya jadi teringat sebuah posting lama (maaf, belum sempat merestore posting-posting lama) mengenai ucapan terima kasih dari Penny Purnawaty (waktu itu Operational Manager JiFFest) setelah membaca tulisan-tulisan saya selama menonton Singapore International Festival (SIFF) 2005. Penny antara lain menulis, “Saya baru selesai membaca semua resensi film dan pengalaman menonton anda selama di SIFF. Senang sekali membacanya. Paling tidak membuat saya tambah yakin kenapa sampai detik ini saya masih mau menggeluti JiFFest…. Terima kasih untuk laporan pandangan matanya. JiFFest memang masih harus banyak berbenah di urusan penyelenggaraan festival. Tapi dengan penonton seperti anda, saya jadi bersemangat lagi mengerjakan pekerjaan saya.”

Komentar saya? “Senang sekali mengetahui kegiatan kecil, tidak menjanjikan apa-apa, tak berguna bagi banyak orang, tapi menurut saya penting buat kesehatan jiwa kita, ternyata diurus orang-orang dengan attitude semacam ini. Artinya, ia bisa saja — dalam proses memperbaiki diri — semrawut penyelenggaraannya, atau secara finansial berdarah-darah, tetapi morally correct.”

Di manapun di seluruh dunia, program seperti JiFFest (dan JakJazz juga, mestinya) tidak boleh dibiarkan menjadi kegiatan komersial yang sepenuhnya mengandalkan sponsorship. Ia adalah peristiwa kebudayaan yang penting bagi sebuah bangsa, dan karena itu mesti didukung tanpa pamrih oleh pemerintah (melalui berbagai institusi terkait) dan para filantrotis.

Tapi sampai penyelenggaraan kedelapan tahun ini, JiFFest tampaknya masih terus berkutat dengan persoalan yang itu-itu saja. Tahun lalu Orlow Suenke, filmmaker Belanda yang jatuh cinta kepada Indonesia dan baru dipercaya menjadi Direktur JiFFest, dengan kegigihan dan persistensi yang luar biasa, berhasil menggandeng banyak donatur dan sponsor. Hasilnya, JiFFest 2005 bisa menjadi sebuah festival film internasional (minus kompetisi) yang besar dalam banyak hal.

Program Guide
Program Guide
Tahun ini? Kemarin saya baru membaca Program Guide JiFFest 2006 (8-17 Desember) untuk menyusun jadwal menonton. Film-film yang diputar tahun ini ternyata tidak seberagam tahun lalu. Sebagian besar malah film produksi Inggris dan Amerika. Tidak banyak pilihan tersedia buat mengintip film-film dari negeri-negeri marjinal dan dunia ketiga — bagian paling menarik dalam festival film internasional. Juga tidak banyak diputar film-film bagus dan populer yang baru saja tampil di festival film di Bangkok dan Singapura — apalagi Busan dan Tokyo. Tahun ini JiFFest tampaknya kembali mengalami kesulitan dana, paling tidak jumlah yang didapat jauh lebih sedikit dibanding tahun lalu.

Lebih buruk lagi, LSF (Lembaga Sensor Film) belum apa-apa sudah melarang pemutaran tiga film mengenai Timor Loro Sae dan satu film mengenai NAD (Nangroe Aceh Darussalam). Keempat film itu adalah Tales of Crocodiles (Belanda), Passabe (Singapura), Timor Loro Sae (Portugal), dan The Black Road (Belanda).

Kendati begitu, saya punya sedikitnya lima alasan mengapa saya (dan juga Anda) tetap harus menonton JiFFest 2006.

The Tiger and the Snow
The Tiger and the Snow
Pertama, masih ada seksi khusus “European Union Film Festival”, yang dipersembahkan oleh Uni Eropa dan bisa ditonton dengan gratis. Di seksi inilah kita bisa menonton keunikan film-film yang bukan cuma dari Perancis, Italia, dan Inggris, melainkan juga Belanda, Hungaria, Polandia, Czech, Finlandia, Austria, Portugal, Swedia, Denmark, Turki, dan lain-lain. Seperti tahun lalu, misalnya, film dari Belanda kali ini, Schnitzel Paradise (Martin Koolhoven), lagi-lagi berkisah tentang kegamangan dan diskriminasi yang dirasakan pemuda Maroko saat harus “menjadi orang Belanda”.

Kedua, tahun ini banyak diputar film-film yang merupakan wakil resmi (official entry) dari berbagai negara untuk mengikuti kompetisi Best Foreign Language Film, Academy Award 2007. Ada official entry dari Indonesia (Berbagi Suami), Denmark, Spanyol, Kanada, Iran, Jerman, Meksiko, Brazil, Chezh, Finlandia, Hingaria, Swedia, dan lain-lain. Termasuk closing film, Black Book (Paul Verhoeven), official entry Belanda, yang berlatar fasisme Nazi dalam Perang Dunia Kedua

Jakarta Undercover
Jakarta Undercover
Ketiga, untuk pertama kalinya diadakan seksi khusus “Kompetisi Film Indonesia”, yang bakal memperebutkan dua penghargaan: Best Film dan Best Director. Yang unik, film-film Indonesia yang ikut kompetisi ini komposisinya lebih lengkap dibanding peserta FFI 2006. Ada film-film calon pemenang FFI 2006 (Denias, Heart, Ruang, Mendadak Dangdut, dan sebagainya), ada film-film baru yang belum sempat ikut FFI 2006 (Koper, Jakarta Undercover), dan ada pula film-film indie yang tidak pernah diputar di jaringan bioskop 21 (Betina; Foto, Kotak dan Jendela). Semua bisa ditonton gratis.

Keempat, seperti biasa, masih ada seksi khusus “House of Docs”, yang memutar banyak film dokumenter yang bukan cuma semakin menarik — bahkan tak kalah menarik dibanding film cerita — melainkan juga sulit buat ditonton di tempat lain selain di JiFFest.

Kelima, sebagian besar film yang diputar di Jiffest 2006 — justru karena tidak banyak yang populer seperti tahun lalu — rasanya bukanlah jenis film yang disukai oleh para pembajak. Artinya, bakal sulit didapat dalam bentuk DVD bajakan di Mangga Dua atau Ratu Plaza. :-)

Karena lima alasan itu, jadwal nonton saya tahun ini relatif sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Rata-rata 2-3 film pada hari kerja dan 3-4 film pada akhir pekan. Total semuanya 18 film bayar, enam film gratis, dan dua film invitation only. Sampai jumpa di Djakarta XXI dan EX XXI!

Update 30.11.06 at 22:40:

Wadoooh!?! Tiba-tiba banyak kawan meminta rekomendasi film-film bagus yang perlu ditonton di JiFFest 2006. Saya sebetulnya sama bingungnya, karena sebagian besar film yang diputar juga masih “asing” buat saya. Tapi, sekadar supaya tidak mengulang-ulang jawaban, berikut saya buatkan daftar sepuluh film cerita yang kemungkinan (besar) bagus dan bisa jadi menarik buat Anda. Empat di antaranya sudah saya tonton di Bangkok International Film Festival 2006. Menurut saya bagus dan menarik — moga-moga selera kita sama. :-)

Kesepuluh film itu adalah: Babel (Alejandro Gonzalez Inarritu, AS), After the Wedding (Susanne Bier, Denmark/Swedia), The Lost City (Andy Garcia, AS), Match Point (Woody Allen, Inggris/AS/Luxemburg), Volver (Pedro Almodovar, Spanyol), Water (Deepa Mehta, Kanada/India), Cafe Transit (Kambuzia Partovi, Perancis/Iran), Once You Are Born You Can No Longer Hide (Marco Tulio Giordana, Italia/Perancis/Inggris), The Tiger and the Snow (Roberto Benigni, Italia), dan Opera Jawa (Garin Nugroho, Indonesia).

Oh ya, sempatkan juga nonton beberapa film dokumenter (House of Docs). Secara teknis dan gagasan, film-film dokumenter mutakhir umumnya bagus-bagus. Jadi tinggal pilih saja tema atau topik yang paling menarik dan Anda minati. Selamat menonton!

11 Responses for “Bersiap untuk JiFFest”

  1. atta says:

    sampai jumpa
    masih tetep gak pake hp ya?
    kita mesti telepati berarti untuk ngepasin nonton film di satu tempat
    hihihihi

  2. Stevie says:

    Langkah selanjutnya, susun formasi dan strategi nonton, allenatore… hehehe.

  3. Stevie says:

    Match Point bagus. Filmnya bagus, Scarlett-nya juga bagus (dan seksi bangedh :p).

  4. Ahmad says:

    Salut! Kami pelajar Indonesia di Universitas Sains Malaysia juga mau menyelenggakan Pagelaran Film Indonesia II di Negeri Jiran. Secara teknis, panitia telah merampungkan materi, tapi secara finansial, belum.

    Ada yang mau membantu?

  5. sahrudin says:

    heru effendi dalam “mari membuat film” sempat menyinggung perlunya “desentralisasi perfilman”. mungkinkah jiffest digelar di luar jawa? oh, nanti bukan jiffest dong namanya…

  6. iman says:

    mpe ketemu di salah satu bioskop deh..

  7. Dika says:

    Rasanya asik juga ya kalau bisa barengan panjengenan pas nonton Jipes.

    Nonton “A Hero Journey” gak? Kayaknya “menjanjikan” tuh.

  8. glenn says:

    selamat nonton ya semua…
    semoga pilihan film-nya tokcer.

  9. Blogguebo says:

    Sukses selalu untuk Jiffest. Memang harus ada yang memulai. Salam kenal.

  10. Salam kenal, senang bisa bertemu dengan pencinta film berkualitas seperti mas Totot. Ulasannya tajam dan dalam.
    Btw, just to announce bahwa KSF akan meluncurkan film terbaru. Sementara dalam proses LSF (mohon doa restunya).
    Sedikit informasi kita sediakan di blog (websitenya masih under construction) lrth-movie.blogspot.com.
    Jika ada waktu silakan berkunjung. Terima kasih.

  11. izza says:

    Pakde izza baca ,seru!!!!

Leave a Reply

Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes

PARTNERS

Log in - BlogNews Theme by Gabfire themes