Sekitar seminggu setelah usai Citra Pariwara (CP 2008), kemarin pagi sampai menjelang sore saya menghadiri pesta berikutnya. Pesta Blogger (PB 2008) di lantai 3 Auditorium Gedung BPPT. Konon lebih 1.000 blogger dari seluruh Indonesia — ditambah lima blogger asing — menghadiri hajatan besar yang mendapat liputan khusus di Kompas Minggu hari ini.
Setelah selama berbulan-bulan menyiapkan CP 2008, yang membuat saya sampai berbusa-busa berbicara tentang perubahan, saya tiba-tiba saja kehilangan kepercayaan pada pikiran saya sendiri. Benarkah fenomena besar perubahan — dan pentingnya kita ikut berubah untuk merespons perubahan tersebut — yang kemudian dicecokkan selama tiga hari penyelenggaraan CP 2008, memang sungguh-sungguh ada dan penting?

PB 2008 diawali dengan pidato ketua panitia, Ndorokakung, di atas podium, laiknya Presiden SBY. Bukan cuma podiumnya, tetapi juga gaya dan isi pidato Ndoro. Selanjutnya ada tiga menteri memberikan sambutan. — dua di antaranya sambutan tertulis karena tak bisa hadir. Lalu penyerahan plakat kepada bapak-bapak pejabat itu.
Saya tiba-tiba bersyukur, pesta industri periklanan Indonesia yang baru saja usai tidak sampai melibatkan menteri atau pejabat tingkat apapun sekadar buat seremonial. Padahal, industri kami itu tahun ini diperkirankan menggerakan belanja iklan sampai Rp 35 Triliun. Bahkan di milis panitia CP 2008, bos besar menolak memberi sambutan atau pidato. “Katanya kita mesti berubah, gak usah pake pidato-pidato segala deh,” katanya.
Kembali ke PB 2008. Usai seremoni, digelar diskusi di atas panggung soal tema pesta ini (Blogging for Society), sementara seribu blogger yang sudah siap berpesta mesti jadi penonoton saja. Karena topik yang didiskusikan bukanlah persoalan penting yang membutuhkan solusi, tidak jadi soal jika diskusi itu juga tidak membuahkan sesuatu yang baru dan penting. Lalu ada sesi dengan para blogger asing. Lalu, lalu, lalu… selebihnya sama persis seperti acara PB 2007.
Selain dalam diskusi awal, tema “Blogging for Society” juga dicoba diaplikasikan dalam Photocontest bertema sama, yang sekadar menghasilkan foto-foto jurnalistik dan human interest. Apa dan bagaimana peran blogger dalam foto-foto tersebut tidak nampak. Tema yang sama juga diwujudkan dalam bentuk penghargaan “Blogging for Society Award 2008″. Tapi komunitas-komunitas blogger yang dinilai berhasil mengimplementasikan semangat “Blogging for Society” itu malah tidak diberi ruang, waktu, dan kesempatan buat menjelaskan apa dan bagaimana mereka melakukan hal itu. Setidaknya, itu bisa membangkitkan atau menularkan semangat tersebut kepada blogger lain.
Kemarin saya sungguh-sungguh kehilangan kepercayaan pada pikiran saya sendiri. Bukankah baru beberapa hari lalu saya dengan pede mengatakan bahwa dunia, manusia, dan segala hal di sekitar kita telah berubah secara radikal? Bukankah bahkan sampai bangun tidur sebelum berangkat ke Gedung BPPT saya masih percaya betul bahwa teknologi, dan terutama internet, merupakan mesin penggerak utama segala perubahan ini? Kalau benar begitu, mengapa kita, para blogger, orang-orang yang setiap hari menghabiskan banyak waktu dengan internet, justru seperti tidak tersentuh perubahan sedikit pun?
Seremoni dalam PB 2008 kemarin — juga ungkapan kabanggaan bahwa blogger Indonesia diurusi oleh pemerintahnya, tidak seperti di Singapura dan Malaysia — menunjukkan bagaimana gelombang besar demokratisasi dan independensi yang digerakkan terutama oleh internet tidak sedikit pun berdampak atau membawa perubahan. Kita masih sangat percaya, bahkan merasa nyaman, dengan pola Patron-Klien dan eksistensi suprastruktur (negara). Kita juga masih menyukai simbol-simbol, slogan-slogan, retorika-retorika.
Tahun lalu kita tiba-tiba merasa eksis cuma karena seorang menteri mencanangkan tanggal 27 Oktober sebagai Hari Blogger Nasional — bukan karena keberadaan dan peran kita diakui oleh masyarakat luas. Tahun ini kita merasa gembira karena ada menteri mengakui bahwa, “Blogger punya kontribusi positif terhadap masyarakat.” — padahal pengakuan dari masyarakat sendiri tentu lebih berarti. Bahkan kita merasa diayomi karena menteri yang sama dengan gagah mengatakan, “Tidak akan pernah ada blooger Indonesia yang ditahan…selama tidak melanggar perundang-undangan yang ada.” Padahal, jika kita memang tidak melanggar hukum, apakah masih diperlukan jaminan seorang menteri?
Bahkan jika PB 2008 memang cuma dimaksudkan sekadar sebagai ajang kopi darat raksasa, Gedung BPPT — dengan sebuah aula besar, selasar sempit, kantin pengap dan gelap — bukanlah pilihan yang tepat. Barangkali karena kita memang masih terus berpikir dalam paradigma usang: lokasi adalah tempat (place), dan bukannya ruang (space). Seribu blogger dari seluruh Indonesia kemarin memang mendapat tempat yang cukup, tetapi rasanya tidak memperoleh ruang yang memadai, buat berkopi darat.
Karena itulah, ketika Iwan Piliang, wartawan yang sedang menghadapi tuntutan hukum dari anggota DPR Alvin Lie akibat tulisannya di internet, bertanya kesan dan pendapat saya mengenai PB 2008, saya bisa dengan mudah merumuskannya dalam kalimat pendek. “Jangan percaya bahwa internet punya peran besar dalam perubahan,” jawab saya. Kenapa? “Buktinya, meskipun setiap hari bergaul dengan internet, ternyata otak kita malah mampet, begini-begini terus, tidak sanggup berubah.”
Saya semakin tidak habis mengerti karena komandan pesta ini adalah teman saya Ndorokakung yang, seperti terlihat di blognya, sejatinya adalah reformis yang bersemangat dan kreatif. Apalagi di samping kanan Ndoro ada teman lain, Iman Brotoseno, yang merupakan pengkritik paling keras PB 2007.
Maka, ketika di tengah pesta kemarin teman saya yang baik hati, Neng Atta, menegur melalui Y!M, saya merasa mendapat kawan bergurau yang sepaham. Blogger idola banyak blogger ini (termasuk saya!) tidak bisa menghadiri PB 2008 karena, sebagai wartawan istana sebuah surat kabar penting, ia sedang bertugas “mengawal” Presiden SBY melawat ke Amerika.
“Senengnya yang ikut PB. Aku lagi di Peru,” katanya di Y!M
Ketika saya ceritakan bahwa saya sebetulnya bosan dengan suasana yang penuh seremonial dan garing di Gedung BPPT, ia masih berusaha menghibur.
“Di sini lebih-lebih. Gak santai, bla bla bla…. (sensor) ” hiburnya.
“Ya nikmati ajalah,” saya balas menghibur. “Kalau liat upacara pembukaan tadi, biarpun Ndorokakung nanti yang jadi presiden, kayaknya suasananya ya tetep bakal begitu juga.”
Hahahaha. Cuma bercanda, Ndoro. Biasalah kalau ngobrol sama Atta, lebih banyak bercandanya. :)
Tapi yang ini serius. Seusai PB 2008, ketika seorang teman mentraktir tuna sandwich di Cali Deli, Jalan Surabaya, salah satu topik pembicaraan juga soal perubahan. Omong punya omong, kami baru menyadari ternyata di antara semua makhluk hidup ciptaan Tuhan, manusia yang dibekali akal dan insting justru yang paling susah berubah. Tumbuhan yang tak punya apa-apa adalah yang paling gampang berubah. Berikutnya hewan yang cuma memiliki insting. Dan di peringkat ketiga adalah kita, manusia.
Ah, sialan, ternyata pikiran-pikiran saya mengenai perubahan selama ini cuma ilusi. Maafkan saya, terutama teman-teman yang sudah terlanjur ikut-ikutan percaya.












perubahan pasti datang, waktunya yg kita belum tahu, pakde :D
Hehehehe… bukan cuma orang iklan aja toh yang susah berubah. Ck ck ck. Kapan nongkrong lagi? di Menteng lagi? masya allah, berubah dong!
komentar terpedas, terjujur, dan memang selama ini saya nanti-nanti khususnya komentar-komentar dari orang-orang yang “tua”.
hallo pak dhe :)
pengen komentar banyak tentang tulisan pak dhe. tapi nanti sajalah.
anyway, thank sudah contribute untuk program 1000 buku untuk tuna netra :)
se pemikiran pakde…. sayajuga merasa tema yang disajikan tidak nyampe…seperti yang saya tulis di blog sy juga :)
padahal sy berharap ada perubahan yang disampaikan para tetua blogger yang idealis tersebut…
semoga perubahan itu ada di tahun 2009
Saya tidak pernah hadir dalam Pesta Blogger(PB) 2007 maupun 2008, tetapi dari berita-berita yang saya baca dalam beberapa media massa mainstream maupun berbagai blog, nuansa yang saya tangkap memang seperti yang terasa dalam tulisan Pakde Totot. Bahwa sebagian besar blogger kita ternyata memang masih seneng formalitas sekaligus bangga dengan restu pemerintah.
bagaimana kalau tahun depan gantian sampean jadi chairman pesta blogger 2009. kita lihat apakah ada perubahan atau tidak? berani terima tantangan?
[...] pakde di Pesta Kedua: Perubahan cuma Ilusi [...]
Internet dan perangkat gadget lain memang bikin para blogger terlihat canggih, tapi itu blm pada mindset. Saat dunia web makin mendekati 2.0, acara2 blogger masih 1.0.
Ndak tahu sejak kapan “society” menjadi kata lain dari “masyarakat”. dalam versi prancis, “society” a.k.a “societat” yang artinya “perkumpulan” atau “persaudaraan”. ada aura ekslusif di situ. kalo ndak salah, di webster’s “society” sinonim dengan komunitas, persaudaraan atau klub yang elit. kita kenal lembaga wah macam “royal society” yang isinya hanya ilmuwan2 papan atas saja.
per definisi, “blogging for society” sebenarnya lebih merupakan gerak ke dalam daripada ke luar: membangun komunitas, perkumpulan, klub dan sejenisnya dari para blogger.
jadi, mending blogging for wit2an daripada blogging for society?
NDOROKAKUNG -> Kenapa dalam dunia yang semakin terpolarisasi begini sampeyan masih terus percaya ada (hanya) satu orang yang begitu penting dan hebatnya sampai bisa menentukan segala sesuatunya?
Jika PB memang dianggap begitu pentingnya sebagai satu-satunya event nasional blogger Indonesia (pahadal lebih baik mendorong dan memberi insentif kepada siapa pun untuk membuat jambore, kopi darat akbar, mukatamar dll.), baiklah. Tapi kenapa sampeyan tidak lebih percaya pada semacam “Tim Adhoc Perumus Format Baru Pesta Blogger”, misalnya. Anggotanya sebisa mungkin “mewakili” semua stakeholder — bukan komunitas — blogsfer Indonesia (kecuali pemerintah dan institusi bisnis). Sebagian anggotanya dipilih, sebagian lagi dijaring dari pendaftar (dan kemudian diseleksi, untuk memastikan keragamannya).
Beri mereka waktu dan kebebasan buat menjaring aspirasi para blogger, menghimpun fenomena-fenomena baru di dunia blog/internet, mendengar suara masyarakat, mengidentifikasi persoalan-persoalan sosial-budaya di Indonesia, untuk menyusun rekomendsi format baru PB yang “paling diingini” dan “paling memberi banyak manfaat”.
Kemudian kembalikan rumusan itu kepada para blogger buat dikritik, dikoreksi, bahkan dicerca. Itu sekadar contoh, karena tentu masih banyak cara lain yang bisa dilakukan. Satu hal yang pasti: saya tak pernah percaya dunia bisa diubah oleh cuma satu orang. :)
[...] di Pestablogger 2008 – Muktamar, Pesta and Wetiga – Blogging itu Berbagi – Blogging For SOCIETY – Pesta Kedua: Perubahan cuma Ilusi – Kesan dan Pesan – Is Pesta Blogger 2008 blogging for society? – Antara Plangi – BHI – Pesta [...]
pakde, saya juga bukan orang yang percaya pada superman, melainkan supertim. tapi barangkali, kita masih perlu seorang superman seperti sampean untuk membentuk supertim.bagaimana? masih tertarik? terus soal event, dari dulu saya mendorong semua kalangan untuk membuat event sejenis. makin banyak acara, makin asyik kan? jadi ndak perlu nunggu pesta blogger. bikin saja mukmatar, jambore, atau apa pun namanya. why not?
btw, tambahan nih, apakah sebetulnya kita perlu mengubah dunia melalui sebuah perhelatan? apa perlu juga kita membuat sebuah panitia adhoc? lain kali mungkin saya perlu ikut wordcamp, pesta blogger-nya anak wordpress di amrik, dan melihat apakah acara itu juga dibebani banyak “pesan”.
NDOROKAKUNG -> Hehehe, maaf Ndoro. Frasa “mengubah dunia” pada akhir kalimat saya cuma metafor buat menjelaskan bahwa janganlah kita berharap cuma pada satu orang buat menyelesaikan sgala persoalan. Bahkan bila nama orang itu adalah Barack Husein Obama. Apalagi namanya Totot Indrarto. :)
Tim Adhoc, atau apalah namanya, cuma contoh buat menjelaskab bahwa yang terpenting justru bukan orangnya — yang sampeyan sebut Superman (“S” besar dari saya) — melainkan bagaimana kita bisa menangkap aspirasi bersama alias apa yang benar-benar “paling diinginkan” atau “paling dibutuhkan” oleh para blogger. Dari bawah ke atas, dan bukannya dari atas ke bawah.
Jika kemudian yang ditemukan adalah keinginan buat sekadar kopi darat, ya buatlah jambore besar di Cibubur atau Kaliurang, misalnya selama dua hari satu malam. Setiap komunitas diminta mendirikan perkampungan masing-masing untuk “memamerkan” segala yang mereka miliki dan banggakan. Setiap peserta kemudian bisa saling berkunjung untuk saling mengenal lebih akrab dan lebih dalam. Tentu harus dibuat berbagai acara atau lomba bersama, baik secara offline atau online memanfaatkan jaringan hotspot yang disediakan. Dan seterusnya, dan seterusnya.
Jika ada keinginan besar dari sebagian blogger buat membahas persoalan-persoalan serius seperti etika, hak cipta, dan sebangsanya, maka buatlah sebuah sarasehan sehari suntuk di Pondok Putri Duyung atau Bali. Datangkan narasumber-narasumber yang kredibel. Kalau perlu, bebani peserta sarasehan itu untuk menyusun rekomendasi tertulis mengenai persoalan yang dibahas.
Jika ada dorongan besar buat meng-improve kemampuan bloggingnya, bisa diadakan Workshop 2-3 hari di Puncak atau Batu sesuai fokus yang diinginkan. Misalnya, teknik menulis, desain dan programming sederhana, dan sebagainya.
Dan seterusnya, dan seterusnya. Kenapa juga harus ngotot dengan format dua pesta bogger selama ini, yang penuh seremoni seperti saya tulis itu.
Yang pasti, kalau tiga contoh “pesta” di atas yang nanti bakal diadakan, rasanya semua tidak perlu restu-restuan dari menteri atau pemerintah. Lakukan saja semuanya dengan gaya santai dan “gue banget”, seperti kita sehari-hari ngeblog di blog msing-masing.
jadi intinya bukan siapa Chairman-nya, tapi bagaimana kita sanggup mencari cara buat menangkap dan memahami begitu banyak keinginan dan kebutuhan yang berseliweran di blogosfer, lantas mengemasnya (nah ini baru porsinya panitia) dalam sebuah atau beberapa kegiatan “pesta” yang sesuai. Yang pasti, saya yakin, soal itu tak mungkin bisa dicari di pesta bloggernya anak-anak Amrik. :)
Tetap semangat, Ndoro!
pakde, terima kasih banyak atas review-nya yang sangat jujur perihal pesta blogger 2008. hal ini tentunya sangat diperlukan untuk mengevaluasi diri :) jadi, sekali lagi saya ucapkan terima kasih. poin-poin yang diutarakan di sini juga cukup objektif menurut saya.
jika diperkenankan urun pendapat, pada dasarnya, saya percaya bahwa blogosfer bukanlah milik segelintir orang, tetapi milik blogger-blogger yang ada di dalamnya.
pesta blogger pun–saya percaya, ada karena dukungan para blogger. namun pesta blogger bukanlah satu-satunya event untuk para blogger. terbuka kesempatan luas bagi para blogger untuk kemudian meluncurkan event blogger lain–atau bahkan tak perlu membuat event, namun dapat melakukan ‘perubahan’ sebagaimana yang diutarakan pakde dalam postingan di atas.
pesta blogger hanya menawarkan alternatif pilihan yang tentunya tidak atau belum dapat mengakomodasi keinginan seluruh blogger yang ada di blogosfer. di samping pesta blogger, masih ada forum-forum lain yang diadakan komunitas, atau diskusi reguler seperti FRESH, ada muktamar blogger… semua ini bagi saya memperkaya blogosfer, dengan segala kekurangan dan kelebihannya.
karena bukankah perbedaan itu yang membuat blogosfer menjadi lebih berwarna?
semoga di masa mendatang akan bermunculan event-event lain; atau gerakan lain dari para blogger yang mampu membawa ‘perubahan’, pakde.
salam! :)
Wah seru banget diskusinya, pak De dan Ndorokakung! Kuharap kalian nggak take it personal mengenai issue ini. Sebenarnya banyak yang memiliki harapan yang lain lagi dari penyelenggaraan PB ini: seribu blogger = seribu harapan yang unik!
Pastinya sangat sulit mengakomodasi semuanya, tapi bukannya tidak bisa. Hanya sulit. Tapi Pakde ada benarnya, dari PB ke PB mestinya ada sesuatu yang berkembang.
Perlu dibuat milestone, yang berisikan suatu issue yang fokus. Misal tahun lalu baru show off force, tahun ini (udah lewat): awareness pemerintah mengenai perkembangan blog di luar negeri (dgn cara benchmark sama blogger luar), tahun 2009 mengenai peran blogger membangun sistem pemilu 2.0 misalnya, tahun depannya lagi apa lah yang dinilai penting pada saat itu. Dan tema ini harus diblow up sehingga semua pihak merasakan adanya perkembangan itu. Tentang benchmark dengan blogger luar itu saya belum menemukan skriptnya (memang belum nyari, mudah2an ada). Itu perlu diblow up supaya kita dan pemerintah terinspirasi.
Maaf Ndorokakung, saya sebenarnya skeptis juga tentang hasil PB tapi maklum karena baru 2 tahun berjalan event ini, bisa dibilang masih tertatih-tatih. Tapi diskusi gubrak-gubrakan ini pasti bermanfaat untuk semakin mendewasakan kita semua.
pakde, mohon dicatat, saya bukan sedang ngotot mempertahankan format dua pesta blogger seperti yang berlangsung selama ini.gagasan seperti yang pakde sampaikan sebetulnya juga pernah terlintas. apa daya, dengan segala keterbatasan dana dan tenaga, saya dan teman-teman baru bisa mengadakan yang seremonial itu. padahal saya juga kepengennya bikin acara seperti yang sampean bayangkan itu.
karena itu, saya tentu saja sangat senang dan pasti akan membantu (sesempatnya, hehehe) kalau ada teman-teman yang lebih mampu mengadakan pesta blogger dengan cara yang lebih kasual tahun depan.
sebetulnya, terus terang, ini yang jadi masalah kita semua, yaitu mendapatkan orang atau tim yang bersedia berinisiatif dan dengan sukarela mengambil kesempatan di depan utk mengadakan pesta blogger. aku ini sudah terlalu cekak ide. ada banyak kawan lain yang lebih fresh, baik dari usia maupun ide.
makanya, saya nawari sampean. gitu pakde.
“Perubahan” yang kita gaung-gaungkan itu kan, sejak awal juga sudah saya sadari sepenuhnya- sebagai narasi rekaan Pakde.
Kita semua masih orang-orang yang sama. Yang terbiasa dengan seremoni dan senioritas, ya akan tetap begitu. Hanya menemukan wahana baru saja.
kita manusia juga pasti berubah kok Pakde, berubah menjadi tua.
[...] Saudara bedhes saya dalam komentarnya, society versi perancis adalah societat. Artinya adalah perkumpulan atau persaudaraan, yang katanya [...]
[...] hadir juga di Pestablogger 2008Muktamar, Pesta and WetigaBlogging itu BerbagiBlogging For SOCIETYPesta Kedua: Perubahan cuma IlusiKesan dan PesanIs Pesta Blogger 2008 blogging for society?Antara Plangi – BHI – Pesta Blogger – [...]
Bagi saya, sebelum bisa membuat perubahan atau menciptakan sesuatu yang wah, kita harus kompak terlebih dahulu. Cara paling gampang untuk kompak itu ya makan bareng, kerja bareng, pokoknya yang bareng2 terus.
Pesta Blogger adalah salah satu alatnya. Saya juga agak kecewa dengan PB karena waktu buat kami bersosialisasi dua arah sangat terbatas. Mayoritas acara cenderung satu arah. Pada akhirnya kami menciptakan keramaian-keramaian kami sendiri. Saya tidak akan mengeluh, waktu kita masih panjang dan prosesnya baru dimulai. Masih ada PB tahun depan, dengan segala perbaikan-perbaikannya.
Zen, dalam bahasa inggris society bisa berarti masyarakat dan bisa berarti komunitas.
Pakde,
saya mencoba menangkap pesan situ. Jadi lebih baik jika si Pesta disiapkan jauhhh hari sebelum perlehatan akbarnya. Melibatkan semua blogosfer.
Dengan demikian maka ada ide2 yang bisa di wujudkan, dan jalan keluar untuk mewujudkannya pun bisa dicari bersama dalam waktu yang panjang tersebut. Ini sangat mungkin saya kira.
Tetapi saya lalu berpikir, adakah pihak-pihak yang mau melibatkan diri dalam sebuah proses yang panjang ini?
Ah, cuma sempilan pikiran saya saja..
Mindset yang masih terpaku pada “itu urusan panitia” bahblahblah (eh, atau jangan-jangan panitia yang membatasi para partisipan?) menjadi kan ranah blogsfer Indonesia masih terpaku pada Superman itu.
Masalah melibatkan diri lagi, contoh mudahnya ya kemarin-kemarin itu, ketika H-1 bahkan masih ada komunitas blogger yang belum menyerahkan profil komunitasnya.
Entah ini panitianya yang membuat jarak atau para blogger sendiri yang ‘memisahkan diri’ dari tanggung jawab bersama. :)
Ah lupa blockquote untuk kalimat leksa ini di komen sebelumnya :D
“Tetapi saya lalu berpikir, adakah pihak-pihak yang mau melibatkan diri dalam sebuah proses yang panjang ini?”
setiap masukan itu pasti berharga, terutama jika ditulis dengan tutur- bahasa yang santun dan tidak bertele-tele seperti tulisan pakde ini. *
tp kalo misalkan ada 100 aja kritik bermutu (bermutu kata siapa? kata saya, jelas..) seperti tulisan pakde ini, yang masing2 mengemukakan ide dan pendapat yang berbeda, pastinya bakalan sulit juga panitia untuk bisa mengakomodasi satu persatu.
intinya: it will be very difficult to please everybody.
I didnt attend PB 2007 nor 2008, tp membaca postingan sana-sini, saya jadi salut dengan kerja keras panitia :)
[...] mulai gerah dengan sikap dominan Prabowo, karena, sebagai manusia digital, mereka (kecuali di Pesta Blogger, tentu saja ;) tidak suka dikuliahi, terbiasa interaktif dan bebas berpendapat, juga tidak menyukai [...]
tul bgt tuh Pakdeh, tapi perubahan pasti menhampiri, semoga aja itu perubahan baik.. :) Amin..