Singapura? Jika ditanya pendapatnya soal negeri-kota berpenduduk tak sampai lima juta jiwa itu, teman-teman saya langung terbelah menjadi dua kelompok besar. Kelompok pertama, yaitu mereka yang doyan belanja, akan bilang suka karena di sana memang surga belanja yang menyenangkan. Sementara kelompok kedua, alias mereka yang lebih “idealis”, bakal buru-buru mengatakan tidak suka karena di sana tidak ada hal yang menarik, yang ada cuma mal dan mal dan mal.
Saya sendiri? Hmmmm. Saya bukan bagian dari dua kelompok tersebut. Saya suka Singapura tapi karena alasan yang berbeda dengan para shopaholic itu. Oleh karena itu setiap kali beruntung bisa ke Singapura, setelah urusan utama selesai, saya selalu memperpanjang masa tinggal selama beberapa hari lagi. Mumpung sudah sampai di sana, alias sudah terlanjur membayar mahal tiket pesawat dan fiskal (siapa pun yang membayari). Untuk apa? Jawaban saya selalu sama: menikmati peradaban.
Eropa merupakan pusat peradaban modern. Dan Singapura adalah situs peradaban modern paling dekat dan terjangkau dari Indonesia. Maka, setelah lelah bekerja dan hidup dalam berbagai “kekacauan” di negeri sendiri, berlibur menikmati peradaban di Singapura selalu menyenangkan, bisa menjadi semacam detoksifikasi sekaligus sarana rejuvenating untuk reorientasi pikiran alias mengembalikan kewarasan saya.
Apa persisnya yang saya lakukan selama di Singapura? Tidak ada! Ya, betul, saya memang tidak pernah melakukan hal penting. Kegiatan sehari-hari di sana cuma berjalan-jalan dengan MRT dan bis kota ke mana saja kaki ingin melangkah, mencari tempat makan dan ngopi atau sembarang tempat (taman, trotoar, perpustakaan, dan lain-lain) untuk duduk-duduk bermalasan sembari membaca atau bermain komputer, dan sesekali belanja alat elektronik atau kebutuhan pribadi. Dalam doing nothing itu hal terpenting yang paling saya nikmati adalah merasakan indahnya hidup di tengah masyarakat yang beradab.
Peradaban memang senantiasa menjadi minat atau mungkin malah obsesi saya. Sebab, menurut saya, peradaban modern selalu memuliakan manusia — dan seluruh kemanusiaan kita. Peradaban modern memberikan kepada semua orang hak kebebasan dasar yang dibutuhkan oleh setiap manusia.
Tidak usahlah bicara konsep human rights atau civil rights yang kompleks. Yang paling sederhana saja: hak kita atas tubuh kita sendiri. Undang-undang tegas mengatur larangan (dan hukuman) bagi pelanggar kesusilaan (telanjang, berhubungan seks, dan lain-lain, di tempat umum), namun di luar itu setiap orang bebas melakukan apa pun terhadap tubuhnya sendiri. Mau berjalan-jalan memakai celana atau rok super mini sampai memperlihatkan pangkal paha, misalnya, silakan saja. Itu tubuh milik Anda sendiri. Negara, atau pihak mana pun, tidak berhak mengaturnya. Seandainya ada orang terganggu atau terangsang, ya salah dia sendiri. Jika orang itu kemudian melakukan pelecehan atau pelanggaran lain, ada konsekuensi hukum yang harus diterima.
Yang sangat menarik, dalam peradaban modern, hak kebebasan dasar yang sangat besar itu diimbangi dengan kewajiban yang sama besarnya. Kewajiban paling utama justru adalah menghormati sepenuhnya hak kebebasan orang lain.
Saya selalu menganggap ruang-ruang publik (jalan, trototoar, taman, stasiun, MRT, bis kota, dan sebagainya) sebagai ikon-ikon peradaban. Sebab, di titik-titik persinggungan dengan orang lain itulah setiap orang kemudian harus bersedia mengorganisir atau menegosiasikan hak dan kewajibannya. Di situlah setiap orang, dengan hak kebebasan besar yang dimilikinya, mesti belajar bahkan berusaha keras menghormati hak kebebasan yang juga dimiliki oleh orang lain. Keberhasilan peradaban baru terjadi setelah semua orang mencapai kearifan: memahami bahwa haknya baru akan terpenuhi setelah ia melaksanakan kewajibannya. Bukan sebaliknya.
Buat orang kampung seperti saya, peradaban modern juga menyenangkan karena ia selalu mengandaikan setiap orang sebagai makhluk sosial yang cerdas dan bertanggung jawab. Atas dasar itu semua relasi dan interaksi sosial diatur bersama oleh mereka sendiri dengan panduan rambu, marka, petunjuk, papan informasi, pengumuman, dan sejenisnya. Tidak dibutuhkan lagi polisi, satpam, satgas, dan lain-lain untuk mengarahkan, mengawasi, atau menertibkan segala sesuatu.
Jalanan selalu tertib, trotoar dan taman selalu nyaman, MRT dan bis kota selalu teratur, karena semua orang paham apa yang boleh dan tidak boleh diperbuat, juga apa yang harus dan tidak seharusnya dilakukan. Karena itu pula kehidupan lantas menjadi lebih nyaman, aman, dan bisa dinikmati oleh semua orang dalam kualitas yang sama baiknya.
Semoga tidak berlebihan jika saya selalu bermimpi suatu saat Indonesia akan menjejaki peradaban yang sama. Sebab, seperti saya tulis di atas, peradaban modern sangat menyenangkan bagi semua orang karena premis dasarnya adalah memuliakan manusia — dan segala kemanusiaan kita.












hanya blogger kondang yang duitnya glondongan, dan tak sekadar meteran, yang bisa menikmati peradaban … :D
Peradaban = civilization?
ya…singapura adalah eropa kecil, sayang tetep aja butuh duit kalo mau ke sana :(
ha? nonton the police reunion ya? you lucky bas…rd! ngiri gue.
Jadi kapan kita Tour de Peradaban, Pakde?
mbok ya kalo pelesiran gitu ngajak-ngajak, pakde…
idem sama #1 (wicak)
gue juga paling demen main kesana. nulis di kafe-kafe enaknya bukan main. makanan di bugis street dalam foto lu ini, juga rasanya bukan main. jalan-jalan pake koleksi summer gue yang kalo gue pake di sini selalu dibilang kagak beradab, gak ada yang coba-coba “main-main”. makanya nikmati peradaban lagi bulan april ama gue nyet, pas tanggal 12 april film mbsm main. kalo mau beli elektronik, jam, snacks, parfum, etc yang murah, sekalian tuker duit di monet changer, di mustafa kawasan little baghdad, beda harganya kagak main-main!
duuh singapura? Ke batam yang sebelahan saja saya belum kuat nanggung ongkosnya pakdhe :((
oke banget nulisnya. Kalo gitu kita berlomba yuk Pakde, cari peradaban di Indonesia.
Karena saya cinta Indonesia. Karena Indonesia harus menjadi pusat peradaban dunia.
gimana? Mau?
wah, kapan ya aLe bs menikmati juga ^^
kalo aja misalnya jakarta kaya’ singapura, pasti banyak yang eksodus..
ga tahan dengan segala keteraturannya :)
iyah tuh, enaknya jalan- jalan.. saya juga orang kampung neh… pengen deh merasakan peradaban yang modrn. salam pakdee duh… dah lama ya gak mampir ke rumah celebrating life ini..
hanya yang duitnya tinggal nyobek sana sini ajah yang bisa begituh.. :|
Rasanya mimpi panjenengan belum akan bisa terwujud di Indonesia — paling tidak untuk 5-10 tahun ke depan.
wah … ganti theme, pakde :)
Singapura menyenangkan utk orang yg punya banyak waktu luang. Percaya deh… Bagi warganya sendiri yg mayoritas super sibuk mengejar uang utk bayar kredit sana-sini, kenyamanan macam ini hanya dpt dinikmati mgkn di hari akhir pekan saja. Demikian pula utk anak2 sekolah yg dibesarkan di sini, Singapura adalah beban, mengingat banyaknya PR, ekskul dan tuition (les) yg harus mereka ikuti agar bisa stay on top. Tak heran rumah2 di Singapura hanya hotel utk tidur saja, malah di hari libur panjang pun rumah ini ditinggal pergi pemiliknya … baik bermalam di pantai, resort, ke luar negeri dll. Duh … manusia memang tak pernah puas selama ia tak tahu utk apa sebenarnya ia dihidupkan di muka bumi ini :-)
hmm…
klo gua anggota kedua kelompok…
di spore klo ada duit n utk 2 mg sj menyenagnkan , khusus utk blanja.
lebih dari itu…..rasanya sumpek dan bosan dan terkungkung dan….KYAHAHHHHHH wanna see greenies and cool air!