Coba ingat-ingat, berapa sering kita sebagai konsumen merasa kecewa sampai harus marah-marah? Apakah kemarahan itu efektif, alias ada gunanya? Sebab, setelah dipikir-pikir dengan kepala dingin, sebetulnya kita sedang marah-marah atau berhadapan dengan “robot”, sementara yang tidak beres sebetulnya adalah “sistem”-nya.
Saya sekarang sedang mengalami hal itu. Dan berbeda dari biasanya, kali ini saya mencoba meluapkan kemarahan saya dengan “cara baru”: marah tanpa marah. Apakah lebih efektif? Walahuallam!
Hari Minggu lalu saya memesan kacamata (campuran silindris, minus, dan plus) di Optik Melawai Supermall Karawaci. Saya bayar lunas dengan Debit BCA, dijanjikan dalam empat hari selesai. Kamis malam, sewaktu mau diambil, ternyata belum selesai karena ada kesalahan waktu memotong lensa. Saya diminta kembali lagi Senin.
Selasa pagi ini sebelum ke kantor saya datang ke Optik Melawai untuk mengambil kacamata saya. Ternyata… belum selesai juga, dan alasannya sama… ada kesalahan waktu memotong lensa. Lantas? “Nanti akan diantar ke rumah Bapak kalau sudah selesai,” kata pegawai di sana.
Saya tidak mau. Batas kesabaran saya sudah habis, apalagi belakangan mata saya terasa semakin capek. Saya mau marah, kata saya dalam hati. Tapi bagaimana caranya?
Saya bilang, “Saya minta kembalikan duit saya saja, supaya saya bisa bikin kacamata lain di optik sebelah!” Mereka bilang tidak bisa. Saya minta bicara dengan manajer tokonya. Mereka bilang di tempat itu tidak ada manajernya.
Dengan suara datar, tidak seperti orang lagi marah-marah, saya kemudian bilang, “Saya akan duduk terus di sini untuk menunggu kacamata saya selesai atau duit saya dikembalikan. Saya tidak akan kerja hari ini, dan akan duduk terus di sini. Kalau hari ini kacamata saya belum selesai dan duit saya belum dikembalikan, saya akan terus duduk sampai toko ini tutup nanti malam, dan besok pagi saya akan duduk di sini lagi sampai toko ini tutup lagi.”
Tentu saja para pegawai di toko ini langsung terdiam, tampak pucat dan panik, lalu diam-diam dengan suara pelan berbicara di telepon dengan kantor pusat mereka.
Dua kali pegawai toko memanggil saya untuk berbicara di telepon dengan perempuan bersuara merdu yang disebutnya “dari pusat”. Melalui telepon perempuan itu minta maaf, menjelaskan apa yang terjadi dan apa yang akan mereka lakukan, mengatakan akan memberi diskon khusus atas kesalahan mereka, dan berjanji akan segera mengantarkan kacamata ke rumah saya.
Saya — tetap dengan suara datar — menegaskan lagi, “Saya tidak perlu diskon. Saya cuma mau kacamata saya segera diselesaikan atau duit saya dikembalikan supaya saya bisa membuat kacamata lain di optik sebelah. Sebelum itu terjadi, saya akan terus duduk di toko ini.”
Barusan “perempuan dari pusat itu” menelepon lagi. “Kami baru selesai memotong lensa Bapak dan sedang menunggu orang untuk mengantarkannya ke sana. Bapak boleh pulang dulu, nanti kami akan mengantar ke rumah Bapak dan memberi diskon khusus sebagai permintaan maaf kami.”
Buset, nekat banget nih orang. “Terima kasih Mbak. Saya tidak perlu diberi diskon. Saya cuma akan terus duduk menunggu di toko ini sampai kacamata saya selesai atau duit saya dikembalikan,” jawab saya.
Hehehe. Begitulah, sampai sekarang saya masih di Supermall Karawaci. Tidak terus-menerus di duduk di dalam Optik Melawai, tentu saja. Tadi saya ke lapak majalah membeli 100th Edition Cinemags. Juga sempat cuci mata ke iBox. Lalu mengambil PowerBook di mobil untuk online dengan fasilitas wi-fi di sini, sekaligus menulis posting ini.












Wah bagus juga ide sampeyan pakde. Tapi yang saya bingung, mata sampeyan yang kecapekan itu ternyata masih juga buat cuci mata ya :D
Mengurangi konsumsi kalori memang otomatis mengurangi pembakaran :-)) Vegetarian, anyone?
yang gendeng penjualnya atau pembelinya ?
sekaligus minal aidin wal faidzin …
hai Pak de…
saya kemarin pengen banget nulis mengenai hal2 kaya gini.
tp saya gak sebagai pembeli, tp sebagai penjual — penjual program tepatnya :)
Kemarin saya sempet gondok banget…. semuanya jd gak logis… tapi gimana ya, namanya juga pembeli — pembeli adalah “Raja” — (katanya….)
Tapi seperti kata Pak de, marah tanpa marah…. saya setuju sekali :)
Peace…! ^-^
*btw, di karawaci tinggal dimana Pak de ? disana kan rumah saya juga
Hmm…terakhir yang saya baca sih, “Siapa bilang pelanggan adalah raja?” nah lo…
:D
Taqabbalallaahu minnaa wa minkum, shiyaamana wa shiyaamakum,
kulu ‘aamin wa antum bi khoirin, minal ‘aidin wal faidzin.
Laisal ‘iidu liman labisal jadiid, wa lakinnal ‘iidu liman thoo’atahu taziid.
(”Idul Fitri bukanlah diperuntukkan bagi orang yang mengenakan sesuatu yang serba baru, tetapi dipersembahkan bagi orang yang ketaatannya bertambah.”)
[...] Selalu saja ada situasi sulit yang merebus batas kesabaran. Pakde Totot melakukannya dengan perlawanan ala wong cilik: mengancam untuk mutung. [...]
Hua ha ha ha.. Ini elmu yang luar biasa. Perlu diamalkan, pakde..
Tapi cerita akhirnya gimana?
itu untung yang dimarahi ngerti … lha nek sing dimarahi gak ngerti piye? vandalisme?
Ha ha ha eta teh kaya gayanya supi (kalo sufi pasti sukses kagak pake ngancem segala kaya Pakde) Saya ngalami rada mirip euy.
Lebaran kedua, klien saya sms: “Pak, besok kita meeting jam 16.00 untuk deadline kita”
Anjrit, nih klien kaga sopan banget ya… Minal Aidin dulu kek sama ogut nyang lagi lebaran dan menikmati cuti bersama. Malah disuruh meeting.
Tapi saya juga ikut gayanya Pakde, Kagak marah dan gak saya bales smsnya. Saya ingin menikmati hari kemerdekaan sama anak istri.
Tiga jam kemudian ada sms lagi dari dia: “Maaf pak, Selamat lebaran. Kita Meeting tanggal 18 aja biar lebih leluasa. Mohon maaf lahir batin.”
Alhamdulillah. Ngga usah marah. Minal Aidin Wal Faidzin Pakde sekeluarga…
hahahahhaa
bagoeesss
ayo beramai-ramai kirim surat pembaca :D
Wah!! Pantes Pakde minta aku baca dulu, kalo ghitu ceritanya emang bikin kesal abis!! Patut ditiru tuch cara marahnya kalau mengalami kejadian serupa.
Endingnya kacamata jadi atau duit balik ya ?!
Jadi kelanjutan story-nya gimana?
kalau temenku pernah kasih masukkan katanya aku harus punya sejuta atau lebih hati, jadi ketika yang satu terluka atau tersakiti, maka masih ada banyak hati buat menampung dan mentoleransi keadaan.
temenku yang lain punya istilah yang lebih sederhana, sabar tak berbatas.
aku lagi belajar dan berproses menuju kesana.
salam kenal!
blognya aku vote ya!
Jadi masih tak di cc nih? Untung sudah bisa buka sendiri.
Tapi kadang marah itu perlu lho pak de…
sebagai balance dari ketidak marahan kita…
coba kalo pak de bilang dengan marah: “pokoknya saya mau kaca mata saya jadi hari ini atau uang saya di kembalikan atau saya duduk di sini sampai kaca mata saya jadi atau mba’ nemenin saya malam ini…”
mungkin pak de bisa dapet lebih…
^_^
*kabur ah, sebelum di jewer pak de…*
Buy xanax….
Buy xanax. Buy 180 xanax. Buy xanax without prescription in usa. Buy xanax precrition needed. Buy xanax no prescription….
[...] adalah hal biasa yang kerap dialami konsumen. Saya pun sering mengalaminya, dan sering pula marah, juga sering sampai hampir kehilangan [...]