Di atas kertas, demokratisasi dalam industri perfilman akan menjadikan sinema Indonesia mutakhir jauh lebih kaya — secara tema, pendekatan, dan bentuk — dibanding periode sebelumnya. Jika dulu sutradara film cuma bisa muncul dari jalur magang dan kesenian (terutama teater), kini semua orang dengan beragam latar pendidikan dan pengalaman bisa relatif mudah membuat film. Mosok sih begitu banyak sutradara dengan begitu banyak isi kepala cuma menghasilkan film-film yang seragam?
Bahwa faktanya...